Lima pola yang muncul berulang saat kami mereview polis keluarga. Kenali sebelum memutuskan proteksi berikutnya.
Sebagian besar keluarga yang kami temui sudah punya proteksi — masalahnya bukan tidak punya, tapi tidak tepat. Lima kesalahan ini muncul berulang.
Anak sering diasuransikan lebih dulu ketimbang kepala keluarga. Padahal risiko finansial paling besar bukan kalau anak sakit — tapi kalau pencari nafkah tidak bisa menghasilkan. Prioritas proteksi mengikuti aliran uang, bukan emosi.
Uang pertanggungan (UP) sering "seadanya" — misalnya Rp 100 juta. Padahal untuk menggantikan penghasilan Rp 15 juta/bulan selama 10 tahun (agar keluarga punya waktu adaptasi), kebutuhan UP idealnya di sekitar Rp 1,5–2 miliar.
Unit link (proteksi + investasi dalam satu polis) bukan produk buruk, tapi sering dijual tanpa dibandingkan dengan alternatif: term life + reksadana. Untuk banyak profil, kombinasi kedua ini memberi proteksi lebih besar dengan biaya lebih rendah. Pilihan bergantung pada disiplin, horizon, dan tujuan — bukan pada produk mana yang dijual.
Polis dibeli sekali, lalu didiamkan 15 tahun. Padahal penghasilan naik, tanggungan berubah, cicilan hilang. Review minimal setiap 3 tahun, atau saat ada perubahan besar (menikah, punya anak, KPR, ganti pekerjaan).
Kalau seluruh keputusan proteksi hanya diambil dari satu agen yang menjual satu perusahaan, sudut pandangnya terbatas. Second opinion dari pihak yang tidak menjual produk sering membuka opsi yang lebih tepat.
Proteksi yang tepat adalah proteksi yang dihitung dari kebutuhan riil keluarga Anda, bukan dari yang paling mudah dijual.
Ingin melihat angka untuk kondisi Anda sendiri? Bicara dengan PRO10 advisor — sesi perkenalan gratis, tanpa komitmen.
Comments
Sign in with your Weblu commenter account to leave a comment.