
Bayangkan pasar sebagai rekan usaha bernama Pak Pasar yang setiap hari menawarkan harga berbeda sesuai suasana hatinya. Kamu tidak wajib mengikutinya. Cara memakai naik-turun harga sebagai peluang, bukan perintah.
Bayangkan kamu punya satu bagian kepemilikan di sebuah usaha bersama seorang rekan bernama Pak Pasar. Setiap hari, Pak Pasar datang dan menawarkan harga untuk membeli bagianmu atau menjual bagiannya. Kadang harganya masuk akal. Kadang, saat ia sedang sangat gembira, harganya konyol tinggi. Saat ia sedang murung, harganya konyol rendah.
Tulisan kedelapan seri Investor Cerdas ini membahas salah satu metafora paling terkenal dalam dunia investasi, dan bagaimana metafora sederhana ini bisa mengubah cara kita menyikapi naik-turun harga.
Kunci dari metafora ini: kamu tidak wajib menerima tawaran Pak Pasar. Kalau harganya terlalu tinggi, kamu bisa menjual sebagian kepadanya. Kalau terlalu rendah, kamu bisa membeli. Kalau harganya biasa saja, kamu bisa mengabaikannya. Besok ia akan datang lagi dengan tawaran baru.
Masalah muncul ketika kita membiarkan suasana hati Pak Pasar menjadi suasana hati kita. Saat ia panik, kita ikut panik dan menjual murah. Saat ia euforia, kita ikut euforia dan membeli mahal. Padahal usaha yang kita miliki bagiannya tidak berubah sedrastis suasana hatinya.
Saat nilai investasi turun, rasanya seperti ada yang salah dengan keputusan kita. Padahal harga hari ini hanyalah pendapat Pak Pasar hari ini. Kalau usahanya tetap sehat, labanya tetap berjalan, dan alasanmu membeli masih berlaku, penurunan harga bukan tanda kamu salah. Bisa jadi itu justru tawaran yang menarik.
Tentu ada kalanya harga turun karena memang ada yang memburuk di dalam usahanya. Karena itu pertanyaan yang tepat saat harga turun bukan "harus jual atau tidak?", tapi "apakah ada yang berubah pada nilai usahanya?".
Investor individu punya satu keunggulan besar dibanding pengelola dana besar: tidak ada yang memaksanya menjual saat harga turun, dan tidak ada laporan kuartalan yang harus dipertanggungjawabkan. Kamu bisa menunggu selama yang kamu mau. Keunggulan ini hanya hilang kalau kamu sendiri yang panik, atau kalau kamu memakai dana yang sebenarnya dibutuhkan dalam waktu dekat.
Pemilik usaha paham betul rasanya: nilai usahamu tidak berubah setiap jam, walaupun ada yang menawar tinggi atau rendah. Pakai perasaan yang sama untuk investasi. Baca juga dana darurat sudah terkumpul, sekarang simpan di mana, supaya kamu tidak pernah terpaksa menjual ke Pak Pasar saat ia murung.
Pak Pasar datang setiap hari dengan tawaran berbeda. Kamu tidak wajib mengikutinya. Pakai tawarannya saat menguntungkan, abaikan saat tidak, dan selalu fokus pada nilai usaha yang kamu miliki.
Mau menyusun rencana yang membuatmu tetap tenang saat Pak Pasar murung? Konsultasikan dengan Prime Family, gratis.
Seri Investor Cerdas · bagian 9 dari 21
Sebelumnya: #7 · Investor Aktif, Bagian 2: Mencari Peluang dengan Disiplin
Berikutnya: #9 · Reksa Dana di Mata Investor Cerdas
Gagasan tulisan ini berangkat dari bab "The Investor and Market Fluctuations" dalam buku The Intelligent Investor karya Benjamin Graham (edisi revisi 1973). Tulisan ini esai kami sendiri, bukan ringkasan atau pengganti buku tersebut. Edukasi umum, bukan nasihat investasi, dan bukan rekomendasi efek atau produk tertentu.






Comments
Sign in with your Weblu commenter account to leave a comment.