
Laba per saham sering dikutip sebagai ukuran utama kinerja perusahaan. Tapi satu angka tahunan bisa menyesatkan karena keuntungan sekali jadi, perubahan jumlah saham, atau cara pencatatan. Cara membacanya dengan lebih bijak.
"Laba per saham naik 40%!" Judul seperti ini terdengar sangat meyakinkan. Tapi sebelum ikut bersemangat, ada beberapa pertanyaan yang perlu diajukan. Dari mana kenaikan itu datang? Apakah akan berulang tahun depan? Dan apakah jumlah sahamnya sama?
Tulisan kedua belas seri Investor Cerdas ini membahas laba per saham, angka kecil yang sering menjadi pusat perhatian, dan cara membacanya supaya tidak tertipu oleh satu tahun yang terlihat bagus.
Laba per saham adalah laba bersih perusahaan dibagi jumlah saham yang beredar. Kalau perusahaan untung Rp100 miliar dan punya 1 miliar lembar saham, laba per sahamnya Rp100. Angka ini berguna untuk membandingkan laba dengan harga saham. Tapi seperti semua angka tunggal, ia bisa menyembunyikan banyak cerita.
Cara sederhana untuk mengurangi risiko tertipu oleh satu tahun adalah melihat rata-rata laba per saham selama beberapa tahun, misalnya lima sampai tujuh tahun. Rata-rata ini meredam tahun yang terlalu bagus dan tahun yang terlalu buruk, sehingga memberi gambaran yang lebih jujur tentang kemampuan perusahaan menghasilkan laba.
Pemilik usaha tahu betul prinsip ini. Kamu tidak akan menilai kesehatan usahamu hanya dari bulan penjualan terbaik, atau menjual usaha dengan harga berdasarkan satu tahun yang luar biasa. Baca juga cara membeli saham pertama kali.
Laba per saham berguna, tapi satu angka tahunan bisa menyesatkan. Pisahkan laba inti dari keuntungan sekali jadi, perhatikan perubahan jumlah saham, dan lihat rata-rata beberapa tahun.
Mau membaca angka usahamu dengan kacamata yang lebih jujur? Ngobrol dengan konsultan Prime Family, gratis.
Seri Investor Cerdas · bagian 13 dari 21
Sebelumnya: #11 · Membaca Perusahaan untuk Pemula
Berikutnya: #13 · Membandingkan Empat Perusahaan Tanpa Terjebak Cerita
Gagasan tulisan ini berangkat dari bab "Things to Consider About Per-Share Earnings" dalam buku The Intelligent Investor karya Benjamin Graham (edisi revisi 1973). Tulisan ini esai kami sendiri, bukan ringkasan atau pengganti buku tersebut. Edukasi umum, bukan nasihat investasi, dan bukan rekomendasi efek atau produk tertentu.






Comments
Sign in with your Weblu commenter account to leave a comment.